RESUME RASIO KEUANGAN MENGGUNAKAN ROA,ROE,NPM PADA BANK BCA

Standard

Nama                    : Dwi Astuti_25209207_4EB08

Bank menyadari bahwa dalam melaksanakan semua kegiatannya, selalu terdapat risiko yang melekat (inheren), yaitu dalam bentuk risiko kredit, risiko likuiditas, risiko pasar atas nilai tukar valuta asing dan tingkat suku bunga, risiko operasional, risiko hukum, risiko reputasi, risiko stratejik dan risiko kepatuhan.

Dalam rangka mengendalikan risiko tersebut, Bank telah mengimplementasikan suatu Kerangka Dasar Manajemen Risiko (Risk Management Framework) secara terpadu yang dituangkan dalam Kebijakan Dasar Manajemen Risiko (KDMR). Kerangka tersebut digunakan sebagai sarana untuk penetapan strategi, organisasi, kebijakan dan pedoman, serta infrastruktur Bank sehingga dapat dipastikan bahwa semua risiko yang dihadapi Bank dapat dikenali, diukur, dikendalikan dan dilaporkan dengan baik.

Dalam rangka penerapan manajemen risiko yang efektif, Bank telah memiliki Komite Manajemen Risiko yang berfungsi untuk membahas permasalahan risiko yang dihadapi Bank secara keseluruhan dan merekomendasikan kebijakan manajemen risiko kepada Direksi.

Selain komite di atas, Bank telah membentuk beberapa komite lain yang bertugas untuk menangani risiko secara lebih spesifik antara lain: Komite Kebijakan Perkreditan, Komite Kredit serta Komite Aset dan Pasiva (Asset and Liability Committee – ALCO).

Selama Desember 2011, nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan depresiasi. Hal tersebut dipicu oleh tingginya permintaan valuta asing di akhir tahun untuk pembiayaan kegiatan impor dan sentimen risiko akibat imbas ketidakpastian ekonomi global. Belum tuntasnya penyelesaian krisis utang dan fiskal kawasan Eropa serta menguatnya indikasi pelemahan ekonomi dunia mempengaruhi minat investasi asing. Secara rata-rata, rupiah terdepresiasi sebesar 0,61% (month to month) ke level Rp9.053 per dolar USD. Namun, secara point to point rupiah masih mampu menguat sebesar 0,46% (month to month) dari bulan sebelumnya dan ditutup pada level Rp9.068 per dolar USD. Pelemahan rupiah tersebut sejalan dengan pergerakan nilai tukar kawasan yang secara rata-rata juga mengalami koreksi. Adapun tingkat volatilitas rupiah pada bulan laporan menurun menjadi 0,23%. Stabilitas industri perbankan masih tetap terjaga dengan baik, sebagaimana tercermin pada :

  • Tingginya rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio) yang berada jauh di atas minimum 8%.
  • Rendahnya rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan) gross di bawah 5%.
  • Penyaluran kredit hingga akhir November 2011 mencapai 26% (year on year) yang sebagian besar disalurkan untuk pembiayaan kegiatan perekonomian yang produktif.

 

Perbankan dan likuiditas perbankan yang terkendali. Industri perbankan cukup stabil, hal ini antara lain ditunjukkan oleh:

  • Terjaganya kondisi permodalan dan likuiditas sebagaimana tercermin pada:
  • Tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) perbankan pada level 18%; dan
  • Terjaganya rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross di bawah 5%. Intermediasi perbankan juga semakin membaik tercermin dari pertumbuhan kredit yang terus meningkat, yakni pada Januari 2011 mencapai 24,6% (year on year), ditopang oleh pertumbuhan pada seluruh jenis kredit termasuk kredit kepada UMKM.
  • Tidak ada indikasi bahwa kenaikan BI Rate pada Februari 2011 diikuti dengan kenaikan suku bunga perbankan.
  • Giro Wajib Minimum Loan to Deposit Ratio (GWM LDR) dan Giro Wajib Minimum Valuta Asing (GWM Valas) telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

 

Stabilitas sistem perbankan tetap terjaga yang disertai dengan akselerasi pertumbuhan kredit. Industri perbankan menunjukkan perkembangan yang tetap stabil sebagaimana tercermin pada:

  • Terjaganya kondisi permodalan jauh di atas persyaratan modal minimum sebesar 8%.
  • Terjaganya rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross di bawah 5%.
  • Pertumbuhan kredit yang terus meningkat, yakni pada Mei 2011 mencapai 23,3% (year on year).

Kebijakan Bank Indonesia untuk mempertahankan BI Rate pada 6,75% serta kondisi fundamental mikro emiten yang baik mampu menopang laju pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama Triwulan II tahun 2011. Dari sisi makro, pertumbuhan IHSG turut didorong oleh tekanan inflasi yang rendah, nilai tukar yang stabil serta prospek pertumbuhan ekonomi yang semakin baik.

Sementara itu, dari sisi mikro, faktor yang turut mempengaruhi kinerja IHSG antara lain pencapaian laba dan pembagian dividen emiten. Sejalan dengan dukungan kedua faktor tersebut IHSG mampu mencapai level tertinggi sepanjang sejarah bursa efek Indonesia yakni sebesar 3.888 atau menguat sebesar 1,34% dibandingkan dengan posisi Triwulan I tahun 2011.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s